Sejarah Desa

NEGERI SOYA DAN ADAT CUCI NEGERI

SEBUAH MOZAIK BUDAYA MALUKU

 

 

 

 

 

     Singkat Sejarah Soya

           

Dari sumber cerita yang ada, perpindahan para leluhur orang Soya datang secara bergelombang dari pulau Seram yang kemudian menetap di Negeri Soya. Mereka membentuk clan baru yang kemudian menjadi  nama pada tempat kediamanya yang baru. Nama ini  sama dengan nama di tempat asalnya. Hal mana dimaksudkan  sebagai kenang-kenangan atau peringatan.

Negeri Soya kemudian berkembang menjadi satu kerajaan dengan sembilan Negeri Kecil yang dikuasai Raja Soya.

Raja Negeri Soya
Raja Negeri Soya

Adapun kesembilan negeri kecil tersebut yakni : Uritetu, HonipopuHatuelaAmantelu, Haumalamang, AhusengPeraErang,  dan Sohia.

Setiap Rumah Tau (mata rumah) yang ada memilih salah satu batu yang dianggap sebagai batu peringatan kedatangan mereka pada pertama kalinya di Negeri Soya. Batu-batu ini disebut “Batu Teung”. Saat ini di Soya dapat  ditemukan beberapa Teung antara lain :

1)Teung Samurele untuk Rumah Tau Rehatta, 2)Teung Saupele untuk Rumah Tau Huwaa, 3)Teung Paisina untuk Rumah Tau Pesulima, 4)Teung Souhitu untuk Rumah Tau Tamtelahittu, 5)Teung Rulimena untuk Rumah Tau Soplanit, 6)Teung Pelatiti untuk Rumah Tau Latumalea, 7)Teung Hawari untuk Rumah Tau Latumanuwey, 8) Teung Soulana untuk Rumah Tau de Wana, 9) Teung Soukori untuk Rumah Tau Salakory, 10) Teung Saumulu  untuk Rumah Tau Ririmasse, 11) Teung Rumania untuk Rumah Tau Hahury, 12) Teung Neurumanguang untuk Rumah Tau Latuputty

Diantara teung-teung yang ada,  terdapat dua tempat yang mempunyai arti tersendiri bagi anggota-anggota clan tersebut yakni : (1) Baileo Samasuru, yaitu tempat berapat dan berbicara; (2)  Tonisou, yaitu suatu perkampungan khusus bagi Rumah Tau Rehatta yang di dalam suhat pun disebut sebuah Teung.

Sistem Pemerintahan Negeri

Adapun sistem pemerintahan negeri Soya pada mulanya merupakan sistem   Saniri Latupatih yang terdiri dari : Upulatu (Raja), Para Kapitan, Kepala-Kepala Soa, Patih dan Orang Kaya, Kepala Adat (Maueng), Kepala Kewang. Saniri Latupatih dilengkapi dengan “Marinyo”.

Asal Mula Upacara Adat Cuci Negeri

 

Menurut sumber yang ada, pada waktu dulu upacara adat cuci negeri  berlangsung selama lima hari berturut-turut. Segera setelah musim Barat (bertiupnya angin barat) yang jatuh pada bulan Desember,

Para pemuda dengan dipimpin oleh Upu Nee menuju ke Sirimau tempat Upulatu. Upu Nee berjalan mendahului rombongan dan memberitahukan Upulatu bahwa, para pemuda akan datang dari clan-clan yang bernaung pada Soa Pera.

Upacara Adat Cuci Negeri

 

Menjelang tengah hari, turunlah Upulatu bersama pemuda-pemuda tadi dari gunung Sirimau menuju Samasuru. Di sana, keluarganya  telah menunggu. Dalam prosesi tersebut, lagu-lagu tua dan suci dinyanyikan (suhat) Raja / Upulatu mengambil tempat pada batu tempat duduknya (PETERANA) dan ber-bicaralah Raja  dari tem-pat itu (Batu Stori Pe-terana) sambil menenga-dahkan mukanya ke Gu-nung Sirimau. Permoho-nan permohonan dinaik-an kepada Ilahi (dalam bentuk KAPATA) yang antara lain meminta penyelamatan negeri Soya beserta penduduknya dari bahaya, penyakit, dan mohon kelimpahan berkah, kepada semua orang. Selesai ini semua,  semua orang pun berdiri dan dua orang wanita (Mata Ina) yang tertua dari keluarga (Rumah Tau), Upulatu melilitkan sebuah pita yang berwarna putih melingkari orang itu (Kain Gandong Sekarang).

Kemudian setelah masuknya agama Kristen yang dibawa oleh orang Portugis dan Belanda, maka penyelenggaraan upacara ini mengalami perubahan bentuk. Selanjutnya dengan cara evolusi yang terjadi di dalam masyarakat yang meliputi segi pendidikan, kerohanian, sosial, dan lain-lain, sebagaimana penyelenggaraannya dalam bentuk sekarang.

Maksud Dan Tujuan

Maksud dari penyelenggaraan dan perayaan upacara  adat tiap tahun

di Negeri Soya oleh penduduk serta semua orang yang  merasa   hubungan kelaurganya dengan Negeri Soya bukan semata-mata didasarkan oleh sifatnya yang tradisionil, tetapi lebih dari itu, dimaksudkan untuk memelihara, dan atau  menghidupkan secara  terus menerus kepada generasi  sekarang maupun yang akan datang, berkenaan dengan, sifat dan nilai-nilainya yang positif.

Tidak dapat disangkal bahwa dari keseluruhan upacara adat ini, terdapat sejumlah hal penting antara lain: Persatu-an, musyawarah, gotong ro-yong, kebersihan, dan tole-ransi. Unsur-unsur tersebut di atas yang menjadikan upacara adat cuci negeri dapat  bertahan sampai saat ini.

Dengan masuknya agama Kristen yang dibawa oleh Bangsa Barat, maka beberapa hal yang berbau animisme ditanggalkan dan disesuaikan dengan ajaran Kristen seperti: meniadakan persiapan-persiapan untuk menyambut arwah-arwah leluhur. Makna kegiatan ini juga kemudian dikaitkan dengan persiapan-persiapan perayaan menyambut hari Raya Natal, Kunci Tahun dan Tahun Baru

Sejak dahulu Negeri Soya telah terkenal dengan Upacara Adat “Cuci Negeri”. Upacara ini menarik perhatian banyak wisatawan, Adapun proses  jalannya upacara adat “Cuci Negeri” dapat dijelaskan  sebagai berikut : Rapat Saniri Besar, Pembersihan Negeri, Naik ke Gunung Sirimau, Upacara Naik Baileo Samasuru, Pesta Negeri dan Cuci Air

Rapat Saniri Besar  Upacara adat Cuci negeri biasanya diselenggarakan pada setiap minggu kedua bulan Desember. Sebelum pelaksanaan upacara, pada tanggal 1 Desember selalu diadakan Rapat Saniri Besar yang dihadiri oleh semua orang laki-laki yang dewasa, bersama Badan Saniri Negeri, serta Tua-Tua Adat untuk bermusyawarah membicarakan persoalan Negeri.

Pembersihan Negeri Pada hari Rabu minggu kedua bulan Desember semua rakyat diwajibkan keluar untuk membersihkan negeri secara gotong royong. Pembersihan tersebut dimulai dari depan Gereja sampai ke Batu Besar, pekuburan, dan Baileo. Dalam kerja ini, Seorang wanita yang baru saja kawin dengan seorang pemuda Negeri Soya diterima sebagai “Mata Ina Baru” yang wajib mengambil bagian dalam upacara ini untuk menunjukkan ketaatannya kepada adat Negeri Soya.

Berkenaan dengan pembersihan Baileo, proses ini diawali oleh Kepala Soa Adat yang biasanya disebut “pica baileo”. Proses ini kemudian dilanjutkan oleh setiap anak negeri Soya yang hadir pada saat itu. Yang menonjol dari suasana pembersihan negeri ini adalah suasana gotong royong, kekeluargaan, dan persatuan.

Naik Ke Gunung Sirimau Naik Ke Gunung Sirimau Pada hari Kamis malam  minggu kedua, sekumpulan orang laki-laki yang berasal dari Rumah Tau Soa Pera berkumpul di Teong Tunisou untuk naik ke Puncak Gunung Sirimau. Dengan iringan pukulan tifa, gong, dan tiupan “Kuli Bia”. Di sana, mereka membersihkan Puncak Gunung Sirimau sambil menahan haus dan lapar. Keesokan hari-nya,, orang laki-laki yang sejak malam ber-ada di puncak Gunung Sirimau turun dari Gu-nung Sirimau. Mereka  kemudian disambut untuk pertama kalinya di Soa Erang (Teung Rulimena). Di sana mereka  dijamu dengan sirih pinang, serta sopi. Setelah itu rombongan menuju baileu. Di   Baileo mereka disambut oleh Mata                                                                       Ina.

                                                                             

                                                                               Upacara “Naik Baileo” (Samasuru)

Upacara Naik Baileo
Upacara Naik Baileo Samasuru

Mempersiapkan upacara Naik Baileo, rombongan “mata Ina” (ibu-ibu) dengan iringan tifa gong,  pergi menjemput Upulatu (Raja) serta membawanya ke Baileo Samasuru,  sementara seluruh rakyat telah berkumpul di Baileo menantikan Raja dan rombongan. Di pintu Baileo,  Upulatu disambut oleh seorang Mata Ina dengan ucapan selamat datang serta kata-kata penghormatan sebagai berikut : “Tabea Upu-latu Jisayehu,  Nyora Latu Jisayehu, Guru Latu Jisayehu. Upu Wisawosi, Selamat dating Silahkan Ma-suk” –  Raja kemudian memasuki Baileu dan saat itu upacara segera dimulai.

Dengan iringan tifa dan gong yang berirama cakalele para “Mata Ina” secara simbolik membersihkan baileu dengan sapu lidi dan daun gadihu, suatu tanda berakhirnya pembersihan negeri secara keseluruhan.

Upulatu melanjutkan acara dengan menyampaikan titahnya kepada rakyat. Titah itu mempunyai arti yang besar bagi rakyat, yang oleh rakyat dipandang sebagai suatu pidato tahunan.  Tita Upulatu Jisyehu kemudian dilanjutkan oleh Pendeta (Guru Latu Jisayehu).   Selanjutnya Kepala Soa Adat melaksanakan tugasnya dengan “Pasawari Adat” atau “Kapata”,  suatu ucapan dalam bahasa tanah yang dimaksudkan untuk meminta dari Allah perlindungan bagi negeri. Sesudah itu segera tifa dibunyikan dan “suhat” (Nyanyian Adat) mulai dinyanyikan. Nyanyian tersebut mengisahkan peringatan kepada Latu Selemau serta datuk-datuk yang telah membentuk negeri ini. Sambil menyanyi, rombongan terbagi dua, sebagian menuju air Unuwei, (anak Soa Erang dan Rakyat lainnya). Di sana setiap orang mencuci tangan, kaki, dll, kemudian rombongan yang datang dari air Unuwei berkumpul di Soa Erang (Teung Rulimena) sambil menantikan rombongan dari Wai Werhalouw (Soa Pera).

Di Teung Tunisouw, telah dipersiapkan Kain Gandong yang kedua ujungnya dipegang oleh dua orang “Mata Ina” yang tertua dari Soa Pera membentuk huruf U menantikan rombongan yang naik dari Wai Werhalouw. Setelah rombongan ini masuk ke dalam Kain Gandong, maka Kain Gandong diputar-putar sebanyak tiga kali (sebutan orang Soya: Dibailele) mengelilingi rombongan, kemudian menuju rumah Upulatu Yisayehu. Dari sini, rombongan dari Tunisou melanjutkan perjalanan menuju Soa Erang (Rulimena) untuk menjemput rombongan di Soa Erang, masuk dalam Kain Gandong. Di tempat itu pula Kain Gandong diputar-putar sebanyak tiga kali mengelilingi rombongan yang telah bersatu  tersebut.

Selanjutnya kedua rom-bongan yang telah bersatu dalam Kain Gandong sambil bersuhat menuju kembali ke rumah Upu-latu.    Di rumah Upulatu, rom-bongan berpantun dan bersukaria. Prosesi ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian upacara.  Prosesi ini kemudian  dibubarkan,  dan Kain Gandong disimpan di rumah Upulatu. Para tamu yang ada kemudian  dijamu dengan makanan adat di rumah Upulatu.

Pesta Negeri

Pesta Negeri
Pesta Negeri

Upacara Cuci Negeri akan menjadi lengkap dengan pesta negeri yang merupakan suatu ungkapan suka cita, kebersamaan, dan kekeluargaan, atas semua proses upacara cuci negeri yang boleh dilakukan.  Pesta ini biasanya sangat meriah karena dihadiri oleh seluruh rakyat dan diisi dengan acara dansa katreji dan badendang,

Cuci Air Pada keesokan harinya, Sabtu,  setelah berpesta semalam suntuk, semua orang menuju kedua air (Wai Werhalouw dan Unuwei)

untuk membersihkannya. Hal ini dimaksudkan agar  air selalu bersih untuk dapat digunakan oleh masyarakat.

 

Facebook Comments